Jumat, 02 Januari 2026

CERITA KEARIFAN LOKAL "LEGOMORO'

Legomoro: Sepiring Kebersamaan dari Tanah Jawa

Di sebuah desa kecil di tanah Jawa, hidup sebuah tradisi yang diwariskan turun-temurun bernama legomoro. Bagi warga desa itu, legomoro bukan sekadar hidangan dari beras ketan dan santan, melainkan simbol kebersamaan, keikhlasan, dan persaudaraan yang dijaga dengan penuh rasa hormat.

Legomoro biasanya hadir dalam berbagai acara adat, seperti selamatan, kenduri, khitanan, hingga peringatan hari besar. Bentuknya menyerupai lontong, dibungkus daun pisang, dan di dalamnya terdapat ketan gurih berisi abon daging atau serundeng kelapa. Proses pembuatannya membutuhkan ketelatenan dan kerja sama. Para ibu berkumpul sejak pagi, berbagi tugas dengan senyum dan canda, sementara kaum bapak membantu menyiapkan kayu bakar dan tempat memasak.

Dalam proses itulah nilai kearifan lokal legomoro terasa hidup. Tidak ada upah, tidak ada pamrih. Semua dilakukan atas dasar gotong royong. Setiap tangan yang bekerja percaya bahwa kebaikan yang diberikan hari ini akan kembali suatu saat nanti, meski dalam bentuk yang berbeda.

Saat legomoro matang, makanan itu tidak langsung dihabiskan sendiri. Legomoro justru dibagikan kepada tetangga dan kerabat sebagai tanda syukur dan penghormatan. Menerima legomoro berarti menerima doa baik dari sang pemberi. Karena itu, masyarakat meyakini bahwa menolak legomoro sama artinya dengan menolak niat baik dan persaudaraan.

Bagi generasi muda desa tersebut, legomoro menjadi pengingat bahwa hidup tidak hanya tentang diri sendiri. Di balik rasa gurih dan aroma daun pisang, tersimpan pesan leluhur: manusia harus hidup rukun, saling berbagi, dan menjaga harmoni dengan sesama.

Kini, meski zaman terus berubah dan makanan modern semakin beragam, tradisi legomoro tetap dipertahankan. Selama masih ada orang yang mau berkumpul, bekerja bersama, dan berbagi dengan tulus, legomoro akan tetap menjadi warisan berharga yang mengajarkan makna kebersamaan sejati.                                                                                                                 Sampang, 1-1-2025; 13:29 WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cerita Mini : Cerita Renungan

  Cerita Renungan : Lingkar yang Mengubah Elik Karya : Srisa Elik dikenal sebagai gadis yang baik dan tekun belajar. Ia rajin membantu t...