Minggu, 08 Februari 2026

Cerita Mini : Cerita Renungan

 

Cerita Renungan : Lingkar yang Mengubah Elik

Karya : Srisa

Elik dikenal sebagai gadis yang baik dan tekun belajar. Ia rajin membantu teman, sopan kepada guru, dan tak pernah meninggalkan kewajibannya. Banyak yang percaya, masa depan Elik akan cerah.

Namun waktu berjalan, dan Elik mulai sering berkumpul dengan sebuah circle yang gemar menertawakan orang lain. Awalnya Elik hanya diam. Lama-kelamaan, ia ikut tertawa. Dari tawa, berubah menjadi kata-kata. Kata-kata itu tajam, menyakitkan, dan menyinggung.

Tanpa sadar, Elik telah menjadi orang yang dulu tak pernah ia bayangkan: merundung.

Setiap kali Elik melontarkan ucapan pedas kepada Ni, teman yang selalu bersikap baik padanya, circle itu mendukung. Mereka menyebutnya bercanda. Padahal hati Ni perlahan runtuh. Ni tetap sabar, tetap diam, tetap berbuat baik.

Sampai suatu malam, dalam kesunyian dan air mata, Ni berdoa:

“Tuhan, aku tak membalas dengan keburukan. Aku hanya memohon keadilan-Mu. Tunjukkan mana yang benar dan mana yang salah. Berilah petunjuk bagi mereka.”

Doa orang yang terdzolimi tak pernah terhalang.

Hari-hari berikutnya, Elik mulai merasakan akibat dari sikapnya. Kepercayaan orang padanya memudar. Kata-katanya kembali padanya dalam bentuk penyesalan. Ia menyadari, circle yang ia banggakan tak pernah benar-benar peduli, mereka hanya menikmati kejatuhan orang lain.

Di titik itulah Elik belajar:
yang benar tetap benar, meski ditertawakan.
yang salah tetap salah, meski didukung banyak orang.

Tuhan memberi petunjuk, bukan untuk menjatuhkan, tetapi agar manusia kembali ke jalan yang lurus.

Dan Elik pun dihadapkan pada pilihan:
tetap berada dalam lingkar yang merusak,
atau berubah—dan memperbaiki diri.

8-2-2026; 19:38 WIB

Bottom of Form

 

Cerita Mini : Cerita tentang Dea

 Cerita Mini

Cerita tentang Dea

Karya : Srisa

Dea selalu percaya bahwa kata-kata bisa menyelamatkannya. Setiap malam, ia menuliskan curhat hidupnya di buku bergaris cokelat, tentang mimpi, kegagalan, dan harapan yang sering kali tertunda. “Kalau aku tak bisa memilih jalan, setidaknya aku bisa menuliskannya,” begitu katanya pada diri sendiri.

Saat SMP, Dea gagal masuk sekolah impian. Ia ingat hari itu dengan jelas. Map pendaftaran masih di tangannya ketika kabar itu datang.

“Dea, sabar ya,” ucap Ibu sambil menepuk punggungnya.
Dea menunduk. “Aku sudah berusaha, Bu.”
Abi menghela napas pelan. “Kegagalan bukan akhir. Ini cuma belokan.”

Dea menuliskan kalimat itu malamnya. Ini cuma belokan.

Masuk SMA, Dea kembali diuji. Ia berharap segalanya berubah, namun kenyataan berkata lain. Sekolah yang diimpikan kembali menjauh. Di kamar, Dea menatap dinding penuh catatan kecil.

“Kenapa selalu aku, Bi?” tanyanya lirih.
Abi tersenyum tipis. “Karena Allah sedang melatihmu kuat.”
“Capek,” jawab Dea jujur.
“Capek itu boleh,” kata Ibu lembut. “Menyerahnya yang tidak.”

Di SMA, Dea menemukan pelariannya: menulis. Ia menulis tentang kelas yang riuh, tentang guru yang menguatkan, tentang dirinya yang terus mencoba. Kata-kata menjadi tempat pulang.

Lulus SMA, harapan kembali menyala. Dea mendaftar kuliah lewat SNBP. Hari pengumuman, tangannya gemetar.

“Gagal,” katanya pelan.
Ibu meraih tangannya. “Kita coba lagi.”

SNBT menyusul. Dea belajar hingga larut, doa-doa mengalir di sela kelelahan. Pengumuman kembali datang dan kembali, gagal.

“Aku bodoh ya?” Dea bertanya, suaranya pecah.
Abi menggeleng tegas. “Tidak. Kamu berani mencoba, itu tidak bodoh.”

Dea menulis lagi. Berani mencoba adalah bentuk keberhasilan kecil.

Akhirnya, pilihan tersisa adalah jalur mandiri. Kampus itu ada di Jember, Jawa Timur. Jarak dan biaya membuat Dea ragu.

“Aku takut, Bu,” katanya.
Ibu tersenyum. “Takut itu tanda kamu peduli.”
Abi menambahkan, “Kalau jatuh, jatuhnya bareng. Bangunnya juga bareng.”

Hari ini Dea menjalani tes prestasi jalur mandiri di Jember, hujan turun rintik. Dea duduk di bangku ruang ujian, menarik napas panjang. Ia teringat semua halaman yang telah ditulisnya tentang jatuh bangun, tentang orang tua yang tak pernah lelah.

“Bismillah,” bisiknya.

Beberapa minggu kemudian, pesan itu datang. Dea membaca perlahan, lalu menutup mulutnya. Air mata jatuh, bukan karena gagal, melainkan karena akhirnya diterima.

“Bu… Bi…” suaranya bergetar.
“Mengapa, Nak?”
“Aku lolos.”

Ibu memeluknya erat. Abi menepuk pundaknya. “Tulis ini,” kata Abi sambil tersenyum. “Supaya kamu ingat, jatuh bukan akhir.”

Malam itu, Dea membuka buku cokelatnya. Ia menulis: Aku sering terjatuh, tapi aku beruntung memiliki orang tua. Dan selama aku menulis, aku akan selalu menemukan jalan.

Sampang, 8-2-2026; 17:41

 

Jumat, 30 Januari 2026

Lagu Anak "Mari Menabung" Karya Srisa

Judul Lagu      : Mari Menabung

Karya                : Srisa

Tangga nada  : C = do

Birama             : 4/4,

Tempo              : sedang (Andante–Moderato).


Bait 1

Sejak dini kita belajar
5 5 6 5 | 3 3 2 3 |
Menghemat uang demi masa depan
5 6 1’ 7 | 6 5 3 | 2 3 2 ||

Sejak dini kita belajar
5 5 6 5 | 3 3 2 3 |
Mempersiapkan sukses di masa depan
5 6 1’ 7 | 6 5 3 | 2 1 ||

 

Bait 2

Seribu, satu hari
3 3 4 5 | 5 4 3 |

Lima ribu, lima hari
3 3 4 5 | 6 5 4 |

Sedikit-sedikit
5 5 6 5 | 3 3 |

Lama-lama menjadi bukit
5 6 1’ 7 | 6 5 3 | 2 1 ||

 

Bait 3

Seribu, satu hari
3 3 4 5 | 5 4 3 |

Sejuta, sejuta hari
3 3 4 5 | 6 5 4 ||

 

Reff:

Bukan mimpi
1’ 1’ 7 | 6 5 |

Ini bukan mimpi
5 6 1’ | 7 6 5 |

Bukan mimpi
1’ 1’ 7 | 6 5 |

Ini bukan mimpi
5 6 5 | 3 2 1 ||


(diulang)

 Bait 2

Seribu, satu hari
3 3 4 5 | 5 4 3 |

Lima ribu lima hari
3 3 4 5 | 6 5 4 |

Sedikit-sedikit
5 5 6 5 | 3 3 |

Lama-lama menjadi bukit
5 6 1’ 7 | 6 5 3 | 2 1 ||

 

Bait 3

Seribu, satu hari
3 3 4 5 | 5 4 3 |

Sejuta sejuta hari
3 3 4 5 | 6 5 4 ||

 

Reff:

Bukan mimpi
1’ 1’ 7 | 6 5 |

Ini bukan mimpi
5 6 1’ | 7 6 5 |

Bukan mimpi
1’ 1’ 7 | 6 5 |

Ini bukan mimpi
5 6 5 | 3 2 1 ||


Sampang, 31-1-2026; 14:00 WIB

CERITA TENTANG LINGKUNGAN "Hati yang Teruji" Karya: Srisa

Hati yang Teruji

Karya: Srisa

Pagi itu terasa bening, seolah matahari ikut menyemangati Annisa yang berdiri di depan kelas. Di tangannya, sebuah poster sederhana bertuliskan “Kelas Bersih dan Nyaman tanpa Sampah Bertebaran” berdiri tegak seperti saksi bisu harapan. Meski senyumnya terukir, di dadanya tersimpan gemetar halus—sebab ia tahu, benih perubahan tidak selalu disambut dengan tangan terbuka.

“Program ini tidak rumit,” ujar Annisa lembut namun mantap. “Kita menjaga kebersihan kelas bersama-sama.”
Rahman, ketua kelas, berdiri di sampingnya. “Kelas bersih adalah rumah belajar kita,” katanya tegas. Beberapa siswa mengangguk, namun sebagian lain hanya menatap kosong, seolah kepedulian adalah beban.

Di sudut kelas, Elik menyeringai. “Ribet,” katanya sinis. Durka tertawa pendek. “Sok peduli. Pasti cuma caper.” Kata-kata itu meluncur seperti duri, menusuk semangat Annisa tanpa terlihat darahnya.

Hari-hari berikutnya, program itu tersendat. Bungkus jajanan dibiarkan di laci, plastik bergelimpangan di lantai. Sampah-sampah itu seolah mengejek, menertawakan usaha kecil Annisa. Ironisnya, ruang yang disebut kelas justru dipenuhi sikap tidak peduli. Elik dan Durka bahkan memprovokasi teman-teman lain agar mengabaikan program tersebut, seakan kebersihan adalah musuh bersama.

Ejekan kian menjadi. Annisa merasa seluruh kelas menentangnya—hiperbola yang lahir dari hati yang lelah. Matanya meredup, seperti langit kehilangan cahaya. Rahman mendekat. “Jangan berhenti. Benih ini akan tumbuh,” ucapnya, mencoba menahan kabut putus asa.

Suatu siang, Guru Srisa memasuki kelas. Ia terdiam melihat lantai kusam penuh remah. Poster itu masih berdiri, kini tampak letih. Dengan suara tenang namun tegas, Guru Srisa berkata, “Lingkungan adalah cermin sikap kita. Kelas kotor bukan sekadar soal sampah, tetapi tentang hati yang abai dan kata-kata yang melukai.”

Kelas terdiam. Annisa dan Rahman diminta menjelaskan kembali programnya. Guru Srisa lalu menegaskan aturan bersama dan pembinaan, sekaligus mengingatkan bahwa meremehkan dan merundung bukanlah bagian dari persahabatan.

Perlahan, suasana mencair. Beberapa siswa mulai peduli. Elik dan Durka, meski enggan, akhirnya ikut bertanggung jawab. Lantai kelas tak lagi “menangis”, dan udara terasa lebih lapang.

Annisa tersenyum. Ia belajar bahwa menjaga lingkungan bukan hanya membersihkan sampah, melainkan juga menumbuhkan empati. Kelas itu pun berubah—lebih bersih, lebih nyaman, dan lebih manusiawi.

31-1-2026; 05:08 WIB


Jumat, 23 Januari 2026

Lagu Anak "Yuk, Yuk, Yuk, Bersekolah" Karya Srisa

Judul                : Yuk, Yuk, Yuk, Bersekolah!

Pencipta         : Sri Setiyo Astuti

Tangga nada : C = do

Birama            : 4/4

Tempo             : Sedang – ceria

Karakter         : Gembira & bersemangat


Not Angka + Syair

Kalimat 1
Pagi ini ku berangkat ke sekolah

5  5  6  5 | 3  3  2  1 |

Pa-gi  i-ni  ku  ber-ang-kat  ke  se-ko-lah


Kalimat 2
dengan doa dan semangat kumelangkah

3  3  5  6 | 5  3  2  1 |

de-ngan  do-a  dan  se-ma-ngat  ku-me-lang-kah


Kalimat 3
Kujejak kaki di kelas, bertemu guru dan teman-teman tersayang

5  5  6  5 | 3  3  2  1 |

Ku-je-jak  ka-ki  di  ke-las

 

3  5  6  1' | 7  6  5  3 |

ber-te-mu  gu-ru  dan  te-man-te-man

 

5  6  5  3 | 2  1  -  - |

ter-sa-yang


Kalimat 4
Semoga kita semua sukses di dunia dan akhirat kelak

3  3  5  6 | 5  3  2  1 |

Se-mo-ga  ki-ta  se-mu-a  suk-ses

 

3  5  6  1' | 7  6  5  3 |

di  du-ni-a  dan  a-khi-rat

 

5  3  2  1 | -  -  -  - |

ke-lak


Reff / Penutup
Yuk, yuk, yuk, bersekolah!

5  5  6 | 5  3 |

yuk  yuk  yuk

 

5  6  5  3 | 2  1  -  - |

ber-se-ko-lah!


Sampang, 24-1-2026, 09:03 WIB


Jumat, 02 Januari 2026

CERITA KEARIFAN LOKAL "LEGOMORO'

Legomoro: Sepiring Kebersamaan dari Tanah Jawa

Di sebuah desa kecil di tanah Jawa, hidup sebuah tradisi yang diwariskan turun-temurun bernama legomoro. Bagi warga desa itu, legomoro bukan sekadar hidangan dari beras ketan dan santan, melainkan simbol kebersamaan, keikhlasan, dan persaudaraan yang dijaga dengan penuh rasa hormat.

Legomoro biasanya hadir dalam berbagai acara adat, seperti selamatan, kenduri, khitanan, hingga peringatan hari besar. Bentuknya menyerupai lontong, dibungkus daun pisang, dan di dalamnya terdapat ketan gurih berisi abon daging atau serundeng kelapa. Proses pembuatannya membutuhkan ketelatenan dan kerja sama. Para ibu berkumpul sejak pagi, berbagi tugas dengan senyum dan canda, sementara kaum bapak membantu menyiapkan kayu bakar dan tempat memasak.

Dalam proses itulah nilai kearifan lokal legomoro terasa hidup. Tidak ada upah, tidak ada pamrih. Semua dilakukan atas dasar gotong royong. Setiap tangan yang bekerja percaya bahwa kebaikan yang diberikan hari ini akan kembali suatu saat nanti, meski dalam bentuk yang berbeda.

Saat legomoro matang, makanan itu tidak langsung dihabiskan sendiri. Legomoro justru dibagikan kepada tetangga dan kerabat sebagai tanda syukur dan penghormatan. Menerima legomoro berarti menerima doa baik dari sang pemberi. Karena itu, masyarakat meyakini bahwa menolak legomoro sama artinya dengan menolak niat baik dan persaudaraan.

Bagi generasi muda desa tersebut, legomoro menjadi pengingat bahwa hidup tidak hanya tentang diri sendiri. Di balik rasa gurih dan aroma daun pisang, tersimpan pesan leluhur: manusia harus hidup rukun, saling berbagi, dan menjaga harmoni dengan sesama.

Kini, meski zaman terus berubah dan makanan modern semakin beragam, tradisi legomoro tetap dipertahankan. Selama masih ada orang yang mau berkumpul, bekerja bersama, dan berbagi dengan tulus, legomoro akan tetap menjadi warisan berharga yang mengajarkan makna kebersamaan sejati.                                                                                                                 Sampang, 1-1-2025; 13:29 WIB

CERITA KEARIFAN LOKAL "JADAH ATAU TETEL" DALAM TRADISI LAMARAN JAWA

 

Jadah atau Tetel dalam Tradisi Lamaran Jawa

Dalam tradisi Jawa, acara lamaran bukan sekadar pertemuan dua keluarga, melainkan momentum sakral yang sarat makna dan simbol. Salah satu sajian yang hampir selalu hadir dalam prosesi ini adalah jadah (Penyebutan ‘Jadah’: Jawa Timur bagian Selatan Kediri, Tulungagung, Blitar, Trenggalek dan Jawa Tengah)atau tetel (Penyebutan ‘Tetel’ : Jawa Timur bagian Jombang, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo),  , makanan tradisional yang terbuat dari ketan yang ditumbuk hingga halus dan lengket.

Jadah atau tetel bukan dipilih tanpa alasan. Teksturnya yang lengket dan padu melambangkan ikatan kuat antara calon pengantin laki-laki dan perempuan. Seperti butiran ketan yang menyatu setelah ditumbuk bersama, demikian pula harapan orang tua agar kedua insan kelak dapat bersatu hati, saling melekat dalam suka dan duka, serta tidak mudah tercerai oleh cobaan hidup.

Dalam prosesi lamaran, jadah biasanya disajikan bersama jajanan pasar lainnya dan diserahkan oleh keluarga calon mempelai laki-laki kepada keluarga perempuan. Penyerahan ini mengandung pesan halus: bahwa pihak laki-laki datang dengan niat tulus, kesungguhan hati, dan kesiapan untuk menjalin hubungan yang erat dan bertanggung jawab.

Selain makna kebersamaan, jadah atau tetel juga mengajarkan nilai kesabaran dan kerja sama. Proses pembuatannya tidak instan—ketan harus dimasak, ditumbuk bersama-sama, dan dibentuk dengan telaten. Hal ini menjadi simbol bahwa membangun rumah tangga memerlukan proses, kesabaran, dan gotong royong dari kedua belah pihak.

Dengan demikian, kehadiran jadah atau tetel dalam acara lamaran Jawa bukan hanya sebagai hidangan, melainkan sebagai doa yang diwujudkan dalam rasa dan rupa. Doa agar calon pengantin kelak hidup rukun, saling menguatkan, dan tetap menyatu erat hingga akhir hayat, sebagaimana lengketnya jadah yang tak mudah dipisahkan.

(Sampang, 3-12-2025; 13:15)

Cerita Mini : Cerita Renungan

  Cerita Renungan : Lingkar yang Mengubah Elik Karya : Srisa Elik dikenal sebagai gadis yang baik dan tekun belajar. Ia rajin membantu t...