Cerita Mini
Cerita tentang Dea
Karya : Srisa
Dea selalu percaya bahwa kata-kata bisa
menyelamatkannya. Setiap malam, ia menuliskan curhat hidupnya di buku bergaris
cokelat, tentang mimpi, kegagalan, dan harapan yang sering kali tertunda.
“Kalau aku tak bisa memilih jalan, setidaknya aku bisa menuliskannya,” begitu
katanya pada diri sendiri.
Saat SMP, Dea gagal masuk sekolah impian. Ia ingat
hari itu dengan jelas. Map pendaftaran masih di tangannya ketika kabar itu
datang.
“Dea,
sabar ya,” ucap Ibu sambil menepuk punggungnya.
Dea menunduk. “Aku sudah berusaha, Bu.”
Abi menghela napas pelan. “Kegagalan bukan akhir. Ini cuma belokan.”
Dea
menuliskan kalimat itu malamnya. Ini cuma belokan.
Masuk SMA, Dea kembali diuji. Ia berharap segalanya
berubah, namun kenyataan berkata lain. Sekolah yang diimpikan kembali menjauh.
Di kamar, Dea menatap dinding penuh catatan kecil.
“Kenapa
selalu aku, Bi?” tanyanya lirih.
Abi tersenyum tipis. “Karena Allah sedang melatihmu kuat.”
“Capek,” jawab Dea jujur.
“Capek itu boleh,” kata Ibu lembut. “Menyerahnya yang tidak.”
Di SMA, Dea menemukan pelariannya: menulis. Ia
menulis tentang kelas yang riuh, tentang guru yang menguatkan, tentang dirinya
yang terus mencoba. Kata-kata menjadi tempat pulang.
Lulus SMA, harapan kembali menyala. Dea mendaftar
kuliah lewat SNBP. Hari pengumuman, tangannya gemetar.
“Gagal,”
katanya pelan.
Ibu meraih tangannya. “Kita coba lagi.”
SNBT
menyusul. Dea belajar hingga larut, doa-doa mengalir di sela kelelahan.
Pengumuman kembali datang dan kembali, gagal.
“Aku
bodoh ya?” Dea bertanya, suaranya pecah.
Abi menggeleng tegas. “Tidak. Kamu berani mencoba, itu tidak bodoh.”
Dea
menulis lagi. Berani mencoba adalah bentuk keberhasilan kecil.
Akhirnya,
pilihan tersisa adalah jalur mandiri. Kampus itu ada di Jember, Jawa Timur.
Jarak dan biaya membuat Dea ragu.
“Aku
takut, Bu,” katanya.
Ibu tersenyum. “Takut itu tanda kamu peduli.”
Abi menambahkan, “Kalau jatuh, jatuhnya bareng. Bangunnya juga bareng.”
Hari ini Dea menjalani tes prestasi jalur mandiri
di Jember, hujan turun rintik. Dea duduk di bangku ruang ujian, menarik napas
panjang. Ia teringat semua halaman yang telah ditulisnya tentang jatuh bangun,
tentang orang tua yang tak pernah lelah.
“Bismillah,”
bisiknya.
Beberapa minggu kemudian, pesan itu datang. Dea
membaca perlahan, lalu menutup mulutnya. Air mata jatuh, bukan karena gagal,
melainkan karena akhirnya diterima.
“Bu… Bi…”
suaranya bergetar.
“Mengapa, Nak?”
“Aku lolos.”
Ibu
memeluknya erat. Abi menepuk pundaknya. “Tulis ini,” kata Abi sambil tersenyum.
“Supaya kamu ingat, jatuh bukan akhir.”
Malam
itu, Dea membuka buku cokelatnya. Ia menulis: Aku sering terjatuh, tapi aku
beruntung memiliki orang tua. Dan selama aku menulis, aku akan selalu menemukan
jalan.
Sampang, 8-2-2026; 17:41
Tidak ada komentar:
Posting Komentar