Cerita Renungan : Lingkar yang Mengubah Elik
Karya : Srisa
Elik
dikenal sebagai gadis yang baik dan tekun belajar. Ia rajin membantu teman,
sopan kepada guru, dan tak pernah meninggalkan kewajibannya. Banyak yang
percaya, masa depan Elik akan cerah.
Namun waktu
berjalan, dan Elik mulai sering berkumpul dengan sebuah circle yang gemar
menertawakan orang lain. Awalnya Elik hanya diam. Lama-kelamaan, ia ikut
tertawa. Dari tawa, berubah menjadi kata-kata. Kata-kata itu tajam,
menyakitkan, dan menyinggung.
Tanpa
sadar, Elik telah menjadi orang yang dulu tak pernah ia bayangkan: merundung.
Setiap
kali Elik melontarkan ucapan pedas kepada Ni, teman yang selalu bersikap baik
padanya, circle itu mendukung. Mereka menyebutnya bercanda. Padahal hati Ni
perlahan runtuh. Ni tetap sabar, tetap diam, tetap berbuat baik.
Sampai
suatu malam, dalam kesunyian dan air mata, Ni berdoa:
“Tuhan,
aku tak membalas dengan keburukan. Aku hanya memohon keadilan-Mu. Tunjukkan
mana yang benar dan mana yang salah. Berilah petunjuk bagi mereka.”
Doa orang
yang terdzolimi tak pernah terhalang.
Hari-hari
berikutnya, Elik mulai merasakan akibat dari sikapnya. Kepercayaan orang
padanya memudar. Kata-katanya kembali padanya dalam bentuk penyesalan. Ia
menyadari, circle yang ia banggakan tak pernah benar-benar peduli, mereka hanya
menikmati kejatuhan orang lain.
Di titik
itulah Elik belajar:
yang benar tetap benar, meski ditertawakan.
yang salah tetap salah, meski didukung banyak orang.
Tuhan
memberi petunjuk, bukan untuk menjatuhkan, tetapi agar manusia kembali ke jalan
yang lurus.
Dan Elik
pun dihadapkan pada pilihan:
tetap berada dalam lingkar yang merusak,
atau berubah—dan memperbaiki diri.
8-2-2026;
19:38 WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar