Jumat, 30 Januari 2026

CERITA TENTANG LINGKUNGAN "Hati yang Teruji" Karya: Srisa

Hati yang Teruji

Karya: Srisa

Pagi itu terasa bening, seolah matahari ikut menyemangati Annisa yang berdiri di depan kelas. Di tangannya, sebuah poster sederhana bertuliskan “Kelas Bersih dan Nyaman tanpa Sampah Bertebaran” berdiri tegak seperti saksi bisu harapan. Meski senyumnya terukir, di dadanya tersimpan gemetar halus—sebab ia tahu, benih perubahan tidak selalu disambut dengan tangan terbuka.

“Program ini tidak rumit,” ujar Annisa lembut namun mantap. “Kita menjaga kebersihan kelas bersama-sama.”
Rahman, ketua kelas, berdiri di sampingnya. “Kelas bersih adalah rumah belajar kita,” katanya tegas. Beberapa siswa mengangguk, namun sebagian lain hanya menatap kosong, seolah kepedulian adalah beban.

Di sudut kelas, Elik menyeringai. “Ribet,” katanya sinis. Durka tertawa pendek. “Sok peduli. Pasti cuma caper.” Kata-kata itu meluncur seperti duri, menusuk semangat Annisa tanpa terlihat darahnya.

Hari-hari berikutnya, program itu tersendat. Bungkus jajanan dibiarkan di laci, plastik bergelimpangan di lantai. Sampah-sampah itu seolah mengejek, menertawakan usaha kecil Annisa. Ironisnya, ruang yang disebut kelas justru dipenuhi sikap tidak peduli. Elik dan Durka bahkan memprovokasi teman-teman lain agar mengabaikan program tersebut, seakan kebersihan adalah musuh bersama.

Ejekan kian menjadi. Annisa merasa seluruh kelas menentangnya—hiperbola yang lahir dari hati yang lelah. Matanya meredup, seperti langit kehilangan cahaya. Rahman mendekat. “Jangan berhenti. Benih ini akan tumbuh,” ucapnya, mencoba menahan kabut putus asa.

Suatu siang, Guru Srisa memasuki kelas. Ia terdiam melihat lantai kusam penuh remah. Poster itu masih berdiri, kini tampak letih. Dengan suara tenang namun tegas, Guru Srisa berkata, “Lingkungan adalah cermin sikap kita. Kelas kotor bukan sekadar soal sampah, tetapi tentang hati yang abai dan kata-kata yang melukai.”

Kelas terdiam. Annisa dan Rahman diminta menjelaskan kembali programnya. Guru Srisa lalu menegaskan aturan bersama dan pembinaan, sekaligus mengingatkan bahwa meremehkan dan merundung bukanlah bagian dari persahabatan.

Perlahan, suasana mencair. Beberapa siswa mulai peduli. Elik dan Durka, meski enggan, akhirnya ikut bertanggung jawab. Lantai kelas tak lagi “menangis”, dan udara terasa lebih lapang.

Annisa tersenyum. Ia belajar bahwa menjaga lingkungan bukan hanya membersihkan sampah, melainkan juga menumbuhkan empati. Kelas itu pun berubah—lebih bersih, lebih nyaman, dan lebih manusiawi.

31-1-2026; 05:08 WIB


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cerita Mini : Cerita Renungan

  Cerita Renungan : Lingkar yang Mengubah Elik Karya : Srisa Elik dikenal sebagai gadis yang baik dan tekun belajar. Ia rajin membantu t...