Jadah atau Tetel dalam Tradisi
Lamaran Jawa
Dalam tradisi Jawa, acara lamaran bukan sekadar
pertemuan dua keluarga, melainkan momentum sakral yang sarat makna dan simbol.
Salah satu sajian yang hampir selalu hadir dalam prosesi ini adalah jadah
(Penyebutan ‘Jadah’: Jawa Timur bagian Selatan Kediri, Tulungagung, Blitar,
Trenggalek dan Jawa Tengah)atau tetel (Penyebutan ‘Tetel’ : Jawa Timur
bagian Jombang, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo), , makanan tradisional yang terbuat dari
ketan yang ditumbuk hingga halus dan lengket.
Jadah atau tetel bukan dipilih tanpa alasan.
Teksturnya yang lengket dan padu melambangkan ikatan kuat antara
calon pengantin laki-laki dan perempuan. Seperti butiran ketan yang menyatu
setelah ditumbuk bersama, demikian pula harapan orang tua agar kedua insan
kelak dapat bersatu hati, saling melekat dalam suka dan duka, serta tidak mudah
tercerai oleh cobaan hidup.
Dalam
prosesi lamaran, jadah biasanya disajikan bersama jajanan pasar lainnya dan
diserahkan oleh keluarga calon mempelai laki-laki kepada keluarga perempuan.
Penyerahan ini mengandung pesan halus: bahwa pihak laki-laki datang dengan niat
tulus, kesungguhan hati, dan kesiapan untuk menjalin hubungan yang erat dan
bertanggung jawab.
Selain
makna kebersamaan, jadah atau tetel juga mengajarkan nilai kesabaran dan
kerja sama. Proses pembuatannya tidak instan—ketan harus dimasak, ditumbuk
bersama-sama, dan dibentuk dengan telaten. Hal ini menjadi simbol bahwa
membangun rumah tangga memerlukan proses, kesabaran, dan gotong royong dari
kedua belah pihak.
Dengan
demikian, kehadiran jadah atau tetel dalam acara lamaran Jawa bukan hanya
sebagai hidangan, melainkan sebagai doa yang diwujudkan dalam rasa dan rupa.
Doa agar calon pengantin kelak hidup rukun, saling menguatkan, dan tetap
menyatu erat hingga akhir hayat, sebagaimana lengketnya jadah yang tak mudah
dipisahkan.
(Sampang,
3-12-2025; 13:15)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar