Hati yang Teruji
Karya: Srisa
Pagi itu
terasa bening, seolah matahari ikut menyemangati Annisa yang berdiri di depan
kelas. Di tangannya, sebuah poster sederhana bertuliskan “Kelas Bersih dan
Nyaman tanpa Sampah Bertebaran” berdiri tegak seperti saksi bisu harapan.
Meski senyumnya terukir, di dadanya tersimpan gemetar halus—sebab ia tahu,
benih perubahan tidak selalu disambut dengan tangan terbuka.
“Program
ini tidak rumit,” ujar Annisa lembut namun mantap. “Kita menjaga kebersihan
kelas bersama-sama.”
Rahman, ketua kelas, berdiri di sampingnya. “Kelas bersih adalah rumah belajar
kita,” katanya tegas. Beberapa siswa mengangguk, namun sebagian lain hanya
menatap kosong, seolah kepedulian adalah beban.
Di sudut
kelas, Elik menyeringai. “Ribet,” katanya sinis. Durka tertawa pendek. “Sok
peduli. Pasti cuma caper.” Kata-kata itu meluncur seperti duri, menusuk
semangat Annisa tanpa terlihat darahnya.
Hari-hari
berikutnya, program itu tersendat. Bungkus jajanan dibiarkan di laci, plastik
bergelimpangan di lantai. Sampah-sampah itu seolah mengejek, menertawakan usaha
kecil Annisa. Ironisnya, ruang yang disebut kelas justru dipenuhi sikap tidak
peduli. Elik dan Durka bahkan memprovokasi teman-teman lain agar mengabaikan
program tersebut, seakan kebersihan adalah musuh bersama.
Ejekan
kian menjadi. Annisa merasa seluruh kelas menentangnya—hiperbola yang lahir
dari hati yang lelah. Matanya meredup, seperti langit kehilangan cahaya. Rahman
mendekat. “Jangan berhenti. Benih ini akan tumbuh,” ucapnya, mencoba menahan
kabut putus asa.
Suatu
siang, Guru Srisa memasuki kelas. Ia terdiam melihat lantai kusam penuh remah.
Poster itu masih berdiri, kini tampak letih. Dengan suara tenang namun tegas,
Guru Srisa berkata, “Lingkungan adalah cermin sikap kita. Kelas kotor bukan
sekadar soal sampah, tetapi tentang hati yang abai dan kata-kata yang melukai.”
Kelas
terdiam. Annisa dan Rahman diminta menjelaskan kembali programnya. Guru Srisa
lalu menegaskan aturan bersama dan pembinaan, sekaligus mengingatkan bahwa
meremehkan dan merundung bukanlah bagian dari persahabatan.
Perlahan,
suasana mencair. Beberapa siswa mulai peduli. Elik dan Durka, meski enggan,
akhirnya ikut bertanggung jawab. Lantai kelas tak lagi “menangis”, dan udara
terasa lebih lapang.
Annisa
tersenyum. Ia belajar bahwa menjaga lingkungan bukan hanya membersihkan sampah,
melainkan juga menumbuhkan empati. Kelas itu pun berubah—lebih bersih, lebih
nyaman, dan lebih manusiawi.
31-1-2026;
05:08 WIB