Jumat, 30 Januari 2026

Lagu Anak "Mari Menabung" Karya Srisa

Judul Lagu      : Mari Menabung

Karya                : Srisa

Tangga nada  : C = do

Birama             : 4/4,

Tempo              : sedang (Andante–Moderato).


Bait 1

Sejak dini kita belajar
5 5 6 5 | 3 3 2 3 |
Menghemat uang demi masa depan
5 6 1’ 7 | 6 5 3 | 2 3 2 ||

Sejak dini kita belajar
5 5 6 5 | 3 3 2 3 |
Mempersiapkan sukses di masa depan
5 6 1’ 7 | 6 5 3 | 2 1 ||

 

Bait 2

Seribu, satu hari
3 3 4 5 | 5 4 3 |

Lima ribu, lima hari
3 3 4 5 | 6 5 4 |

Sedikit-sedikit
5 5 6 5 | 3 3 |

Lama-lama menjadi bukit
5 6 1’ 7 | 6 5 3 | 2 1 ||

 

Bait 3

Seribu, satu hari
3 3 4 5 | 5 4 3 |

Sejuta, sejuta hari
3 3 4 5 | 6 5 4 ||

 

Reff:

Bukan mimpi
1’ 1’ 7 | 6 5 |

Ini bukan mimpi
5 6 1’ | 7 6 5 |

Bukan mimpi
1’ 1’ 7 | 6 5 |

Ini bukan mimpi
5 6 5 | 3 2 1 ||


(diulang)

 Bait 2

Seribu, satu hari
3 3 4 5 | 5 4 3 |

Lima ribu lima hari
3 3 4 5 | 6 5 4 |

Sedikit-sedikit
5 5 6 5 | 3 3 |

Lama-lama menjadi bukit
5 6 1’ 7 | 6 5 3 | 2 1 ||

 

Bait 3

Seribu, satu hari
3 3 4 5 | 5 4 3 |

Sejuta sejuta hari
3 3 4 5 | 6 5 4 ||

 

Reff:

Bukan mimpi
1’ 1’ 7 | 6 5 |

Ini bukan mimpi
5 6 1’ | 7 6 5 |

Bukan mimpi
1’ 1’ 7 | 6 5 |

Ini bukan mimpi
5 6 5 | 3 2 1 ||


Sampang, 31-1-2026; 14:00 WIB

CERITA TENTANG LINGKUNGAN "Hati yang Teruji" Karya: Srisa

Hati yang Teruji

Karya: Srisa

Pagi itu terasa bening, seolah matahari ikut menyemangati Annisa yang berdiri di depan kelas. Di tangannya, sebuah poster sederhana bertuliskan “Kelas Bersih dan Nyaman tanpa Sampah Bertebaran” berdiri tegak seperti saksi bisu harapan. Meski senyumnya terukir, di dadanya tersimpan gemetar halus—sebab ia tahu, benih perubahan tidak selalu disambut dengan tangan terbuka.

“Program ini tidak rumit,” ujar Annisa lembut namun mantap. “Kita menjaga kebersihan kelas bersama-sama.”
Rahman, ketua kelas, berdiri di sampingnya. “Kelas bersih adalah rumah belajar kita,” katanya tegas. Beberapa siswa mengangguk, namun sebagian lain hanya menatap kosong, seolah kepedulian adalah beban.

Di sudut kelas, Elik menyeringai. “Ribet,” katanya sinis. Durka tertawa pendek. “Sok peduli. Pasti cuma caper.” Kata-kata itu meluncur seperti duri, menusuk semangat Annisa tanpa terlihat darahnya.

Hari-hari berikutnya, program itu tersendat. Bungkus jajanan dibiarkan di laci, plastik bergelimpangan di lantai. Sampah-sampah itu seolah mengejek, menertawakan usaha kecil Annisa. Ironisnya, ruang yang disebut kelas justru dipenuhi sikap tidak peduli. Elik dan Durka bahkan memprovokasi teman-teman lain agar mengabaikan program tersebut, seakan kebersihan adalah musuh bersama.

Ejekan kian menjadi. Annisa merasa seluruh kelas menentangnya—hiperbola yang lahir dari hati yang lelah. Matanya meredup, seperti langit kehilangan cahaya. Rahman mendekat. “Jangan berhenti. Benih ini akan tumbuh,” ucapnya, mencoba menahan kabut putus asa.

Suatu siang, Guru Srisa memasuki kelas. Ia terdiam melihat lantai kusam penuh remah. Poster itu masih berdiri, kini tampak letih. Dengan suara tenang namun tegas, Guru Srisa berkata, “Lingkungan adalah cermin sikap kita. Kelas kotor bukan sekadar soal sampah, tetapi tentang hati yang abai dan kata-kata yang melukai.”

Kelas terdiam. Annisa dan Rahman diminta menjelaskan kembali programnya. Guru Srisa lalu menegaskan aturan bersama dan pembinaan, sekaligus mengingatkan bahwa meremehkan dan merundung bukanlah bagian dari persahabatan.

Perlahan, suasana mencair. Beberapa siswa mulai peduli. Elik dan Durka, meski enggan, akhirnya ikut bertanggung jawab. Lantai kelas tak lagi “menangis”, dan udara terasa lebih lapang.

Annisa tersenyum. Ia belajar bahwa menjaga lingkungan bukan hanya membersihkan sampah, melainkan juga menumbuhkan empati. Kelas itu pun berubah—lebih bersih, lebih nyaman, dan lebih manusiawi.

31-1-2026; 05:08 WIB


Jumat, 23 Januari 2026

Lagu Anak "Yuk, Yuk, Yuk, Bersekolah" Karya Srisa

Judul                : Yuk, Yuk, Yuk, Bersekolah!

Pencipta         : Sri Setiyo Astuti

Tangga nada : C = do

Birama            : 4/4

Tempo             : Sedang – ceria

Karakter         : Gembira & bersemangat


Not Angka + Syair

Kalimat 1
Pagi ini ku berangkat ke sekolah

5  5  6  5 | 3  3  2  1 |

Pa-gi  i-ni  ku  ber-ang-kat  ke  se-ko-lah


Kalimat 2
dengan doa dan semangat kumelangkah

3  3  5  6 | 5  3  2  1 |

de-ngan  do-a  dan  se-ma-ngat  ku-me-lang-kah


Kalimat 3
Kujejak kaki di kelas, bertemu guru dan teman-teman tersayang

5  5  6  5 | 3  3  2  1 |

Ku-je-jak  ka-ki  di  ke-las

 

3  5  6  1' | 7  6  5  3 |

ber-te-mu  gu-ru  dan  te-man-te-man

 

5  6  5  3 | 2  1  -  - |

ter-sa-yang


Kalimat 4
Semoga kita semua sukses di dunia dan akhirat kelak

3  3  5  6 | 5  3  2  1 |

Se-mo-ga  ki-ta  se-mu-a  suk-ses

 

3  5  6  1' | 7  6  5  3 |

di  du-ni-a  dan  a-khi-rat

 

5  3  2  1 | -  -  -  - |

ke-lak


Reff / Penutup
Yuk, yuk, yuk, bersekolah!

5  5  6 | 5  3 |

yuk  yuk  yuk

 

5  6  5  3 | 2  1  -  - |

ber-se-ko-lah!


Sampang, 24-1-2026, 09:03 WIB


Jumat, 02 Januari 2026

CERITA KEARIFAN LOKAL "LEGOMORO'

Legomoro: Sepiring Kebersamaan dari Tanah Jawa

Di sebuah desa kecil di tanah Jawa, hidup sebuah tradisi yang diwariskan turun-temurun bernama legomoro. Bagi warga desa itu, legomoro bukan sekadar hidangan dari beras ketan dan santan, melainkan simbol kebersamaan, keikhlasan, dan persaudaraan yang dijaga dengan penuh rasa hormat.

Legomoro biasanya hadir dalam berbagai acara adat, seperti selamatan, kenduri, khitanan, hingga peringatan hari besar. Bentuknya menyerupai lontong, dibungkus daun pisang, dan di dalamnya terdapat ketan gurih berisi abon daging atau serundeng kelapa. Proses pembuatannya membutuhkan ketelatenan dan kerja sama. Para ibu berkumpul sejak pagi, berbagi tugas dengan senyum dan canda, sementara kaum bapak membantu menyiapkan kayu bakar dan tempat memasak.

Dalam proses itulah nilai kearifan lokal legomoro terasa hidup. Tidak ada upah, tidak ada pamrih. Semua dilakukan atas dasar gotong royong. Setiap tangan yang bekerja percaya bahwa kebaikan yang diberikan hari ini akan kembali suatu saat nanti, meski dalam bentuk yang berbeda.

Saat legomoro matang, makanan itu tidak langsung dihabiskan sendiri. Legomoro justru dibagikan kepada tetangga dan kerabat sebagai tanda syukur dan penghormatan. Menerima legomoro berarti menerima doa baik dari sang pemberi. Karena itu, masyarakat meyakini bahwa menolak legomoro sama artinya dengan menolak niat baik dan persaudaraan.

Bagi generasi muda desa tersebut, legomoro menjadi pengingat bahwa hidup tidak hanya tentang diri sendiri. Di balik rasa gurih dan aroma daun pisang, tersimpan pesan leluhur: manusia harus hidup rukun, saling berbagi, dan menjaga harmoni dengan sesama.

Kini, meski zaman terus berubah dan makanan modern semakin beragam, tradisi legomoro tetap dipertahankan. Selama masih ada orang yang mau berkumpul, bekerja bersama, dan berbagi dengan tulus, legomoro akan tetap menjadi warisan berharga yang mengajarkan makna kebersamaan sejati.                                                                                                                 Sampang, 1-1-2025; 13:29 WIB

CERITA KEARIFAN LOKAL "JADAH ATAU TETEL" DALAM TRADISI LAMARAN JAWA

 

Jadah atau Tetel dalam Tradisi Lamaran Jawa

Dalam tradisi Jawa, acara lamaran bukan sekadar pertemuan dua keluarga, melainkan momentum sakral yang sarat makna dan simbol. Salah satu sajian yang hampir selalu hadir dalam prosesi ini adalah jadah (Penyebutan ‘Jadah’: Jawa Timur bagian Selatan Kediri, Tulungagung, Blitar, Trenggalek dan Jawa Tengah)atau tetel (Penyebutan ‘Tetel’ : Jawa Timur bagian Jombang, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo),  , makanan tradisional yang terbuat dari ketan yang ditumbuk hingga halus dan lengket.

Jadah atau tetel bukan dipilih tanpa alasan. Teksturnya yang lengket dan padu melambangkan ikatan kuat antara calon pengantin laki-laki dan perempuan. Seperti butiran ketan yang menyatu setelah ditumbuk bersama, demikian pula harapan orang tua agar kedua insan kelak dapat bersatu hati, saling melekat dalam suka dan duka, serta tidak mudah tercerai oleh cobaan hidup.

Dalam prosesi lamaran, jadah biasanya disajikan bersama jajanan pasar lainnya dan diserahkan oleh keluarga calon mempelai laki-laki kepada keluarga perempuan. Penyerahan ini mengandung pesan halus: bahwa pihak laki-laki datang dengan niat tulus, kesungguhan hati, dan kesiapan untuk menjalin hubungan yang erat dan bertanggung jawab.

Selain makna kebersamaan, jadah atau tetel juga mengajarkan nilai kesabaran dan kerja sama. Proses pembuatannya tidak instan—ketan harus dimasak, ditumbuk bersama-sama, dan dibentuk dengan telaten. Hal ini menjadi simbol bahwa membangun rumah tangga memerlukan proses, kesabaran, dan gotong royong dari kedua belah pihak.

Dengan demikian, kehadiran jadah atau tetel dalam acara lamaran Jawa bukan hanya sebagai hidangan, melainkan sebagai doa yang diwujudkan dalam rasa dan rupa. Doa agar calon pengantin kelak hidup rukun, saling menguatkan, dan tetap menyatu erat hingga akhir hayat, sebagaimana lengketnya jadah yang tak mudah dipisahkan.

(Sampang, 3-12-2025; 13:15)

Cerita Mini : Cerita Renungan

  Cerita Renungan : Lingkar yang Mengubah Elik Karya : Srisa Elik dikenal sebagai gadis yang baik dan tekun belajar. Ia rajin membantu t...