Esai Budaya
Nilai Kearifan Lokal dalam Kuliner “Bebek Songkem”
Sampang, Madura
Oleh : Srisa
Kuliner khas daerah atau kuliner tradisional tidak hanya berfungsi sebagai
pemenuhan kebutuhan pangan, tetapi juga sebagai cerminan nilai budaya suatu
masyarakat. Salah satu kuliner khas Sampang, Madura, yang sarat akan kearifan
lokal adalah Bebek Songkem. Hidangan ini dikenal dengan cita rasanya
yang khas serta proses pengolahan yang unik dan sarat makna budaya.
Bebek
Songkem berasal dari tradisi masyarakat Madura dalam mengolah daging bebek utuh
dengan cara dibungkus daun pisang dan dimasak melalui proses pengukusan atau
perebusan yang lama. Nama "Songkem" juga berasal dari posisi kepala
bebek yang menunduk saat dikukus, menyerupai orang yang sedang sungkem, seperti
dijelaskan dalam Wikipedia.
Proses memasak tersebut menggunakan rempah
sederhana, seperti bawang putih, cabai kecil (rawit), dan garam. Teknik memasak
ini menghasilkan tekstur daging yang empuk, aroma cabai yang meresap sempurna
serta kepedasan yang estetik. Seiring dengan perkembangan zaman, level
kepedasan juga disesuaikan- tidak pedas
dan pedas- karena pecinta kuliner Bebek Songkem ini tidak hanya orang dewasa,
namun semua kalangan.
Yang lebih penting adalah cara memasak yang
sederhana namun penuh ketelatenan menunjukkan kearifan masyarakat Madura dalam
memanfaatkan bahan alam secara optimal.
Kuliner Bebek Songkem bukan dicetuskan atau
ditemukan oleh satu orang, tetapi sudah menjadi budaya yang bersifat komunal,
milik bersama. Tidak ada satu orang pun yang secara resmi disebut penemu
pertama Bebek Songkem karena kuliner ini berasal dari tradisi masyarakat
Sampang, Madura. Bebek Songkem lahir dari tradisi 'songkem' atau sungkem
(menghormati) di Sampang saat Hari Raya Idul Fitri, di mana warga membawa bebek
kukus isi rempah sebagai buah tangan untuk kiai atau orang tua.
Bebek Songkem sebagai hidangan penghormatan
(songkeman) yang kemudian menjadi makanan khas, namun tokoh seperti Matorruzaq atau disebut Kauleh Torul, telah mempopulerkan kuliner tersebut. Kauleh Torul yang bernama lengkap Matorruzaq
M.MT. Beliau adalah seorang insinyur berasal dari Jrengik, Sampang, yang dikenal telah menulis
tentang Bebek Songkem dan mempopulerkan tradisi ini. Beliau mengartikan tradisi
ini menjadi sebuah kuliner ikonik dengan namanya sendiri di era modern. Sementara merek seperti Bebek Songkem Pak Salim juga sudah mendaftarkan merek
dagangnya dan sertifikasi, mengindikasikan popularitasnya dan menunjukkan
adanya pelaku usaha yang mengomersialisasikan kuliner ini sejak lama.
Nilai kearifan lokal yang tercermin dalam Bebek
Songkem adalah kesabaran dan ketekunan. Proses memasak yang membutuhkan waktu
lama mengajarkan bahwa hasil terbaik diperoleh melalui kesungguhan dan
kesabaran. Selain itu, penggunaan daun pisang sebagai pembungkus menunjukkan
kepedulian terhadap lingkungan karena memanfaatkan bahan alami yang ramah
lingkungan dan mudah terurai.
Bebek Songkem juga mencerminkan nilai kebersamaan
dan kekeluargaan. Kuliner ini biasanya disajikan pada acara keluarga, hajatan,
atau pertemuan penting, sehingga menjadi sarana mempererat hubungan sosial.
Hidangan tersebut tidak hanya dinikmati secara individual, melainkan dibagikan
bersama sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur.
Di samping itu, Bebek Songkem mengandung nilai
identitas budaya masyarakat Sampang. Resep dan cara memasaknya diwariskan
secara turun-temurun, sehingga menjadi penanda jati diri budaya Madura.
Keberadaan Bebek Songkem di tengah gempuran kuliner modern menunjukkan bahwa
masyarakat setempat tetap berupaya menjaga dan melestarikan warisan leluhur.
Dengan demikian, Bebek Songkem bukan sekadar
makanan khas, melainkan representasi kearifan lokal yang mencakup nilai
kesabaran, kebersamaan, kepedulian lingkungan, dan identitas budaya.
Melestarikan kuliner tradisional ini berarti menjaga warisan budaya sekaligus
menanamkan nilai-nilai luhur kepada generasi muda agar tetap menghargai budaya
lokal di tengah perkembangan zaman.
Sampang, 25-12-2025; 09:01 WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar