Kamis, 25 Desember 2025

Esai Budaya : Kuliner “Bebek Songkem” Sampang, Madura

 

Esai Budaya

                        Nilai Kearifan Lokal dalam Kuliner “Bebek Songkem” Sampang, Madura

                                                                               Oleh : Srisa

Kuliner khas daerah atau kuliner tradisional tidak hanya berfungsi sebagai pemenuhan kebutuhan pangan, tetapi juga sebagai cerminan nilai budaya suatu masyarakat. Salah satu kuliner khas Sampang, Madura, yang sarat akan kearifan lokal adalah Bebek Songkem. Hidangan ini dikenal dengan cita rasanya yang khas serta proses pengolahan yang unik dan sarat makna budaya.

Bebek Songkem berasal dari tradisi masyarakat Madura dalam mengolah daging bebek utuh dengan cara dibungkus daun pisang dan dimasak melalui proses pengukusan atau perebusan yang lama. Nama "Songkem" juga berasal dari posisi kepala bebek yang menunduk saat dikukus, menyerupai orang yang sedang sungkem, seperti dijelaskan dalam Wikipedia.

Proses memasak tersebut menggunakan rempah sederhana, seperti bawang putih, cabai kecil (rawit), dan garam. Teknik memasak ini menghasilkan tekstur daging yang empuk, aroma cabai yang meresap sempurna serta kepedasan yang estetik. Seiring dengan perkembangan zaman, level kepedasan  juga disesuaikan- tidak pedas dan pedas- karena pecinta kuliner Bebek Songkem ini tidak hanya orang dewasa, namun semua kalangan.

Yang lebih penting adalah cara memasak yang sederhana namun penuh ketelatenan menunjukkan kearifan masyarakat Madura dalam memanfaatkan bahan alam secara optimal.

Kuliner Bebek Songkem bukan dicetuskan atau ditemukan oleh satu orang, tetapi sudah menjadi budaya yang bersifat komunal, milik bersama. Tidak ada satu orang pun yang secara resmi disebut penemu pertama Bebek Songkem karena kuliner ini berasal dari tradisi masyarakat Sampang, Madura. Bebek Songkem lahir dari tradisi 'songkem' atau sungkem (menghormati) di Sampang saat Hari Raya Idul Fitri, di mana warga membawa bebek kukus isi rempah sebagai buah tangan untuk kiai atau orang tua.

Bebek Songkem sebagai hidangan penghormatan (songkeman) yang kemudian menjadi makanan khas, namun tokoh seperti Matorruzaq atau disebut Kauleh Torul, telah mempopulerkan kuliner tersebut. Kauleh Torul yang bernama lengkap Matorruzaq M.MT. Beliau adalah seorang insinyur berasal dari Jrengik, Sampang, yang dikenal telah menulis tentang Bebek Songkem dan mempopulerkan tradisi ini. Beliau mengartikan tradisi ini menjadi sebuah kuliner ikonik dengan namanya sendiri di era modern. Sementara merek seperti Bebek Songkem Pak Salim juga sudah mendaftarkan merek dagangnya dan sertifikasi, mengindikasikan popularitasnya dan menunjukkan adanya pelaku usaha yang mengomersialisasikan kuliner ini sejak lama.

Nilai kearifan lokal yang tercermin dalam Bebek Songkem adalah kesabaran dan ketekunan. Proses memasak yang membutuhkan waktu lama mengajarkan bahwa hasil terbaik diperoleh melalui kesungguhan dan kesabaran. Selain itu, penggunaan daun pisang sebagai pembungkus menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan karena memanfaatkan bahan alami yang ramah lingkungan dan mudah terurai.

Bebek Songkem juga mencerminkan nilai kebersamaan dan kekeluargaan. Kuliner ini biasanya disajikan pada acara keluarga, hajatan, atau pertemuan penting, sehingga menjadi sarana mempererat hubungan sosial. Hidangan tersebut tidak hanya dinikmati secara individual, melainkan dibagikan bersama sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur.

Di samping itu, Bebek Songkem mengandung nilai identitas budaya masyarakat Sampang. Resep dan cara memasaknya diwariskan secara turun-temurun, sehingga menjadi penanda jati diri budaya Madura. Keberadaan Bebek Songkem di tengah gempuran kuliner modern menunjukkan bahwa masyarakat setempat tetap berupaya menjaga dan melestarikan warisan leluhur.

Dengan demikian, Bebek Songkem bukan sekadar makanan khas, melainkan representasi kearifan lokal yang mencakup nilai kesabaran, kebersamaan, kepedulian lingkungan, dan identitas budaya. Melestarikan kuliner tradisional ini berarti menjaga warisan budaya sekaligus menanamkan nilai-nilai luhur kepada generasi muda agar tetap menghargai budaya lokal di tengah perkembangan zaman.

Sampang, 25-12-2025; 09:01 WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cerita Mini : Cerita Renungan

  Cerita Renungan : Lingkar yang Mengubah Elik Karya : Srisa Elik dikenal sebagai gadis yang baik dan tekun belajar. Ia rajin membantu t...