Esai Reflektif: Manusia 2020-an
Semudah Itukah Berpaling dari Lawan Bicara karena Gawai?
Di tahun 2020-an ini, saya semakin sering memperhatikan sebuah pemandangan yang dulu terasa janggal, tetapi kini menjadi begitu biasa: orang-orang yang duduk berhadapan, keberadaan dalam rapat atau yang lainnya, namun pikirannya tidak saling terhubung; tangan mereka asik men-scroll layar, sementara percakapan di dunia nyata perlahan menguap. Saya pun bertanya dalam hati, “Sesederhana itukah kita berpaling dari lawan bicara hanya karena gawai?” Anehnya, jawaban yang muncul sering kali membuat saya tidak nyaman: ya, tampaknya semudah itu.
Tanpa disadari, gawai telah mengubah cara kita hadir dalam kehidupan sehari-hari. Dulu, menatap mata lawan bicara adalah wujud penghargaan, perhatian, dan kehadiran penuh. Sekarang, dering notifikasi atau cahaya kecil yang berkedip seolah memiliki kekuatan lebih besar daripada manusia yang duduk tepat di depan kita. Lebih menyedihkan lagi ketika saya menyadari bahwa saya pun terkadang melakukan hal yang sama, mengutamakan layar daripada percakapan yang seharusnya saya hargai. Ketika menyadari hal itu, selalu terpatri di benak, "Jangan lakukan lagi, kita harus meminta izin berpaling ke gawai!". Pada momen itu, saya melihat betapa rapuhnya fokus manusia modern dan betapa mudahnya hati kita beralih pada hal-hal yang serba cepat namun dangkal.
Saya sering merenungkan apa yang sebenarnya hilang ketika kita terlalu bergantung pada gawai. Sebuah percakapan yang seharusnya hangat berubah menjadi setengah hati. Senyum yang tulus tergantikan oleh emoji. Kepekaan terhadap ekspresi, gerak tubuh, dan intonasi lawan bicara memudar karena kita sibuk melihat dunia lain yang lebih “menghibur”. Kita menjadi manusia yang hadir secara fisik tetapi absen secara emosional. Dan ketika kebiasaan itu menjadi lumrah, hubungan menjadi rapuh, kedekatan berjarak, dan makna kehadiran perlahan memudar. Basa-basi tak terelakkan.
Padahal, dalam satu percakapan yang sungguh-sungguh, selalu ada sesuatu yang berharga: pelajaran, rasa empati, atau sekadar kehangatan manusiawi yang tidak bisa diberikan oleh layar sebesar apa pun. Namun, manusia 2020-an tampaknya mulai lupa bahwa berbicara bukan hanya tentang kata-kata, melainkan juga tentang perhatian. Jika perhatian kita terbelah, hubungan pun ikut terbelah.
Pada akhirnya, saya merasa bahwa berpaling dari lawan bicara karena gawai bukanlah masalah teknologi, melainkan masalah pilihan. Kita memilih untuk tidak benar-benar hadir. Kita memilih kenyamanan instan dibandingkan kedalaman hubungan. Kita memilih layar yang memancarkan cahaya, padahal manusia di depan kita membawa cahaya yang jauh lebih nyata.
Kini saya sadar, untuk kembali menjadi manusia yang utuh, saya harus melatih diri untuk hadir penuh, menundukkan gawai ketika ada yang sedang berbicara, memberi ruang bagi percakapan, dan menghargai kehadiran orang lain. Sebab di tengah dunia yang semakin sibuk dan bising, kemampuan untuk benar-benar mendengarkan mungkin adalah bentuk cinta dan kepedulian yang paling sederhana, tetapi paling penting.
22-11-2025; 03:38 WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar